PERENCANAAN JALUR TERBANG UAV MANUAL

Perhitungan rencana jalur terbang bisa dilakukan secara manual dan otomatis. Perhitungan otomatis dilakukan dengan menggunakan software perencana jalur terbang. Kalau manual menghitung menggunakan rumus-rumus perhitunan foto udara seperti dibawah ini :

Perhitungan Renacana Terbang Secara Manual

Berikut ini adalah contoh perhitungan rencana terbang secara manual dengan objek kajian candi Ijo. Wahana yang digunakan quadkopter dan kamera canon powershoot S100.

Rencana pemotretan tegak

  • Karakteristik sensor

Kamera yang digunakan untuk tujuan pemetaan adalah canon powershoot s100. Kamera ini memiliki sensor CMOS dengan ukuran 7.49 x 5.52 (1/1.7”) dan resolusi maksimal 4000×3000 pixel, lebar dan panjang candi Ijo ( 106 m dan 182 m). Ukuran pixel pada sensor dapat diketahui dengan membagi ukuran lebar sensor dengan lebar jumlah pixel.

Ukuran sensor pada CMOS = Lebar sensor/jumlah pixel (lebar)

Ukuran sensor pada CMOS = 5.52 mm/ 3000 piksel

Ukuran sensor pada CMOS = 0.00184 mm/piksel

Ukuran pixel pada sensor CMOS adalah 0.00184 mm/piksel

  • Tinggi Terbang

Tinggi terbang dapat ditentukan dengan mengetahui terlebih dahulu ukuran pixel pada sensor, panjang fokus kamera yang digunakan, serta menentukan resolusi spasial yang diinginkan. Resolusi spasial yang diinginkan untuk pemotretan tegak ini yaitu 16 mm diharapkan akan mampu memberikan tingkat kejelasan objek secara detail. Hasil perhitungannya sebagai berikut :

GSDs = Ukuran Piksel x Hg/f

16 mm = 0.00184 x Hg/5.2

Hg = 45217,3913

Hg = 45, 21 m

Ketinggian terbang yang digunakan adalah 45 meter.

  • Luas perekaman

Luas area perekaman dipengaruhi oleh ukuran sensor yang digunakan, ketinggian terbang, dan skala yang dihasilkan. Skala yang dihasilkan terlebih dahulu dihitung untuk mendapatkan luas area perekaman. Skala  dapat diketahui dengan cara membagi ukuran piksel di sensor dengan ukuran pixel di lapangan.

Skala = ukuran pixel di sensor / ukuran pixsel di lapangan

Skala = 0.00184/16 mm

Skala = 1/8695.65

Ukuran skala yang diperoleh adalah 1 : 8695.65.

Luas area perekaman diperoleh dari panjang cakupan dikali lebar cakupan area perekaman. Berikut ini perhitungannya :

Panjang cakupan perekaman = Panjang CMOS x Skala

Panjang cakupan perekaman = 7.49 x 8695.65

Panjang cakupan perekaman = 65130.419 mm

Panjang cakupan perekaman = 65.13 m

Lebar cakupan perekaman = Lebar CMOS x skala

Lebar cakupan perekaman = 5.52 x 8695.65

Lebar cakupan perekaman = 47999.988

Lebar cakupan perekaman = 48 m

Luas cakupan perekaman = Panjang cakupan x lebar cakupan

Luas cakupan perekaman = 65.13 x 48

Luas cakupan perekaman = 3126.24 m2

Luas cakupan area perekaman adalah 3126.24 m2.

  • Endlap dan sidelap

Endlap dan sidelap digunakan untuk mengestimasi agar tidak terjadinya kurang pertampalan pada foto udara. Candi Ijo termasuk daerah yang bertopografi perbukitan dan dipengaruhi angin karena berada di atas bukit. Untuk itu endlap dan sidelap ditentukan sebesar 70% dan 60%. Berikut ini perhitungannya :

Luas endlap = (lebar cakupan x 70%) x Panjang cakupan

Luas endlap = (48 x 70%) x 65.13

Luas endlap = 2188.36 m2

 

Luas sidelap = (panjang cakupan x 60%) x lebar cakupan

Luas sidelap = (65.13 x 60%) x 48

Luas sidelap = 1875.74 m2

  • Jumlah jalur terbang

Jumlah jalur terbang dipengaruhi oleh jarak antar jalur terbang, lebar wilayah, dan panjang cakupan perekaman. Jarak antar jalur terbang ditentukan terlebih dahulu dengan cara panjang cakupan dikali dengan 1 dikurangi sidelapnya. Jarak jalur terbang yang diperoleh adalah 26 meter.

Jarak antar jalur terbang = Panjang cakupan x (1 – sidelap)

Jarak antar jalur terbang = 65.13 x (1 – 0.6)

Jarak antar jalur terbang = 26 m

Jumlah antar jalur terbang = ((Lebar wilayah – Panjang cakupan))/ jarak antar jalur terbang + 1

Jumlah antar jalur terbang = ((106 – 65.13))/26 + 1

Jumlah antar jalur terbang = 2.67

Jumlah antar jalur terbang = 3 (Pembulatan)

Jumlah jalur terbang adalah 3 buah.

  • Interval pemotretan

Interval pemotretan didapatkan dari penentuan basis medan. Basis medan ditentukan dari lebar cakupan dikali 1 dikurangi sidelap sehingga basis medan yang diperoleh 14.4 m.

Basis medan = Lebar cakupan x (1 – endlap)

Basis medan = 48 x (1 – 0,7)

Basis medan = 14.4 m

  • Kecepatan wahana

Kecepatan wahana yang digunakan adalah 3 m/s dengan shutter speed 1/2000. Hal ini mengkondisikan wahana dengan kamera yang digunakan sehingga tidak terjadi blur saat pemotretan.

Sekarang kita sudah tahu bahwa penerbangan wahana itu bisa dilakukan secara manual dan otomatis. (perbedaannya nanti akan dibahas secara khusus di artikel berikutnya). Berikut ini adalah salah satu cara pembuatan rencana jalur terbang menggunakan software Mission Planner secara otomatis.

 

*** SEMOGA BERMANFAAT ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s