PENTINGNYA PERENCANAAN JALUR TERBANG UAV ( Unmanned Aerial Vehicle)

Haai… Roserlab…

Kali ini kita akan berbagi tentang “All about UAV”. Perkembangan UAV untuk sekarang ini berkembang pesat, begitu juga dengan software-software pendukungnya. UAV ada yang diproduksi secara pabrikan ada juga yang bisa dirakit. Temen-temen yang hobby rakit dan paham tentang otak-atik mesin akan menjadi sesuatu hal yang menarik bisa merakit, menerbangkan plus bisa mengolah. Waah, udah berapa softskill itu yaa.. hhee..  Oke, kita masuk materi… artikel kali ini tentang perencanaan jalur terbang. Untuk itu kita perlu tau mengapa penting perencanaan jalur terbang, sebelum kita mengoperasikannnya.

Pentingnya Perencanaan Jalur Terbang

Sebelum melakukan penerbangan wahana tentu saja perencanaan jalur terbang perlu dipersiapkan. UAV banyak berkembang pesat di segala bidang, baik dalam bidang pendidikan, pemetaan, wisata, hiburan, perfilman, dan sebagainya. Logikanya ketika kita ingin memotret suatu objek, kemudian kita akan berfikir

1. Tujuan pemotretan ini apa?

Tujuan pemotretan terkait bidang dan hasil yang akan diperoleh apa, apakah ditujukan untuk pemetaan, wisata, hiburan dan lain sebagainya. Format yang akan diambil foto atau video, atau dua-duanya. Tentu akan berbeda jika tujuan pemotretan untuk pemetaan dan wisata misalnya. Jika ditujukan untuk pemetaan tentu saja perencanaan akan lebih detail dan terkait dengan skala. Dan pada umumnya lebih sering menggunakan hasil foto udara daripada video. Hal ini dikarenakan nilai overlap yang pasti ketika dalam bentuk foto udara, sedangkan video udara menggabungkan beberapa frame foto dalam sekali perekaman, sehingga ketika proses pengolahan tetap akan memecah video tersebut menjadi foto. Akan berbeda jika ditujukan untuk wisata dan hiburan. Penggunaan video udara dan foto udara, keduanya akan lebih melengkapi. Foto udara akan lebih unggul dibanding foto terestrial dimana foto udara dapat mencakup aspek liputan dari atas dengan sudut pengambilan view yang bagus. Begitu juga dengan video udara, perekaman dari atas dengan sudut view yang bagus juka akan mendapatkan hasil view yang bagus. Apalagi ditambah dengan lokasi wisata yang bagus, bukan? Tapi, hal ini harus disesuaikan dengan wahana yang digunakan. Penggunaan drone untuk dunia wisata, hiburan, perfilman akan lebih sesuai untuk pengambilan format video karena lebih stabil sehingga hasil video bisa jernih.

2. Apa objek yang akan dipotret?

Mengetahui objek yang akan dipotret, apakah berupa bangunan tunggal, kawasan, jalan, sungai, perkotaan, pertambangan, daerah pesisir, hutan, sawit, dan sebagainya akan bermanfaat sebagai pertimbangan, antara lain :

  • Wahana yang digunakan

wahana yang digunakan bisa fixing wing (pesawat sayap tetap) dan rotary wing (pesawat yang gaya angkatnya dari baling-baling)

  • Lokasi take off dan landing wahana

Dengan mengetahui karakteristik wahana yang digunakan terkait ukuran wahana, pripsip terbangnya, cara mengoperasikannya, dan kita akan memikirkan cara dan lokasi take off dan landingnya. Take off pada rotary wing atau sejenis drone akan lebih mudah dibanding fix wing. Drone dengan gaya angkat secara vertikal maka tidak memerlukan cara take off seperti fix wing. Fix wing bisa dilontarkan dengan tangan atau menggunakan alat pelontar. Hal ini tergantung ukuran dan jenis fix wing yang digunakan. Drone memili luasan area take off yang lebih sempit dibanding fix wing, sedangkan fix wing membutuhkan area yang luas untuk take off dan landing.

  • Faktor penghalang

Faktor penghalang bisa berupa keadaan cuaca, tingkat intensitas dan kuantitas cahaya matahari, awan, kecepatan angin, vegetasi, topografi, lokasi pemotretan, dan lainnya.

  • Perencanaan jalur terbang

Perencanaan jalur terbang akan mempengaruhi teknik yang akan kita gunakan apakah pemotretan manual atau otomatis. Pemotretan otomatis atau autopilot menggunakan perencanaan yang telah dibuat melalui aplikasi atau software perencanaan jalur terbang. Jika pemotretan manual kita menentukan jalur terbang seperti apa yang akan digunakan, take off dan landing, interval pemotretan, lokasi pemotretan, dan lainnya.

3. Apa wahana yang digunakan?

Wahana yang digunakan akan mempengaruhi jarak tembuh, lama waktu tempuh, radius penerbangan, kecepatan wahana, pertimbangan wahana rentan terhadap apa. Integrasi wahana dan alat-alat lainnya juga perlu diperhatikan. Integrasi wahana terhadap GCS (Ground Control Station), remote kontrol, telemetri, antena, kekuatan sinyal yang akan mempengaruhi sistem kerja secara keseluruhan pada sistem penerbangan.

4. Bagaimana teknik pemotretan terbaik akan mendapatkan hasil yang baik juga?

Secara umum teknik pemotretan dalam penginderaan jauh terbagi menjadi, pemotretan tegak, condong dan sangat condong. Teknik pemotretan ini berkaitan dengan arah sumbu kamera dengan posisi objek. Teknik pemotretan lainnya berdasarkan jalur terbang berupa teknik pemotretan orbit, RTL, mapping, follow me, dan lainnya (hal ini akan dibahas secara khusus pada artikel berikutnya).

5. Bagaimana sudut pengambilan kamera terhadap objek?

Hal ini penting untuk mendapatkan informasi yang akan diambil dari data yang kita potret. Misal dalam bidang pemotretan untuk pemetaan, menggunakan teknik pemotretan tegak, karena ingin mendapatkan informasi di permukaan bumi yang benar secara tegak lurus terhadap objek dengan jalur terbang mapping. Misal untuk pemodelan 3 dimensi, berarti dapat menggunakan teknik pemotretan condong untuk mendapatkan informasi detail dari objek dengan jalur terbang orbit.

Jadi, pentingnya perencanaan jalur terbang untuk mengurangi kesalahan saat penerbangan dan mendapatkan hasil yang maksimal.

 

*** SEMOGA BERMANFAAT ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s